Terorisme adalah suatu tindakan yang tidak pantas dilakukan. Tindakan ini hanyalah perilaku menebar teror dan ketakutan di masyarakat. Belum lagi jika aksi teror tersebut memakan korban tak bersalah. Salah satu bentuk terorisme yang paling sering dilakukan adalah bom bunuh diri. Tindakan ini adalah pemasangan sebuah bom pada tubuh manusia dimana manusia dan bom tersebut akan diledakkan di suatu tempat, biasanya tempat sasaran bom adalah area publik. Jenis teror ini lebih susah diketahui karena terpasang pada tubuh manusia, sehingga kemanapun tubuh bergerak maka bom akan ikut dengannya. Pelaku jenis bom ini sudah dipastikan akan meninggal karena tubuhnya ikut hancur tak bersisa bersamaan dengan meledaknya bom. Tindakan ini tidak pantas dilakukan apalagi di tempat keramaian karena pasti menimbulkan banyak korban. Belakangan ini Syria dikagetkan dengan pelaku aksi teror bom yang ternaya masih anak-anak. Diduga pelakunya adalah bocar perempuan berusia tujuh dan sembilan tahun.
Pada bulan Desember di Damaskus, anak perempuan berusia tujuh tahun yang mengenakan pakaian tebal dan hangat berjalan kaki ke pos polisi. Tidak lama setelah itu, bom bunuh diri meledak bersama dengan tubuh kecilnya. Diduga bom tersebut diledakkan menggunakan remot kontrol oleh ayahnya. Sesaat sebelum terjadinya ledakan, sebuah video memperlihatkan seorang wanita yang mengenakan burqa berwarna hitam memeluk dua anak kecil. Diketahui wanita tersebut adalah ibu dari anak-anak di dalam video. Anak-anak tersebut bernama Fatima, berumur sembilan tahun, dan Islam, berumur tujuh tahun. pertanyaannya adalah bagaimana mungkin anak kecil terpikirkan untuk menanam bom dalam tubuhnya dan meledakkannya di tempat tertentu? Dibalik tindakan anak tersebut, ternyata campur kedua orang tuanya cukup besar. Kedua orang tua Fatima dan Islam mendorong mereka melakukan perbuatan yang mereka anggap sebagai jihad dengan iming-iming akan surga untuk hambanya yang membela agama Islam.
Saat orang tua tersebut diwawancarai, mereka beranggapan bahwa tidak masalah berapapun usia anak mereka akan berjihad dan tidak perlu takut untuk melakukannya. Sang ibu bahkan berharap semoga jihad yang dilakukan anak mereka diterima di sisi Tuhan. Karena orang tua Fatima dan Islam memiliki pola pikir yang sama, besar kemungkinan aksi nekat yang dilakukan anak tersebut karena doktrin orang tuanya. Kronologi aksi mengerikan ini bermula ketika ada anak perempuan yang mendekat ke kantor polisi di Damaskus. Anak ini mengenakan sweater merah dan bertanya apakah dia boleh menggunakan toilet. Tanpa curiga, polisi yang bertugas mempersilahkan dan menunjukkan dimana toiletnya berada. Ternyata, beberapa setelah itu bom meledak di dalam toilet dan menewaskan tiga orang polisi yang berada di dekatnya.
Alih-alih mendapat pujian, aksi yang dilakukan anak ini justru mendapat kritikan dari masyarakat dan dianggap sebagai terorisme. Banyak orang beranggapan bahwa Fatima dan Islam telah dicuci otaknya oleh orang tua mereka sendiri. Dalam video, sang ayah duduk dengan bendera hitam Jabhat Fateh al-Sham di belakangnya, organisasi ini dulu memiliki nama Al Nusra dan merupakan organisasi pemberontak pemerintahan Syria. Meski melancarkan aksis teror, Al Nusra tidak berhubungan dengan Al Qaeda maupun ISIS. Akan tetapi, organisasi ini sering menggunakan cara yang senada ketika akan melancarkan aksi terorisme. Kita sebagai orang tua sudah seharusnya menjaga betul apa yang dilihat dan diserap anak kita. Bagaimanapun juga, anak-anak masih polos dan belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Orang dibalik layar kejadian inilah dalang sesungguhnya.